blognya dr kendo

tahimpik nak di ateh, takuruang nak dilua

kurang lebih 3 minggu pasca gempa yang meluluh lantakan sumbar, telah tampak geliat membangun kembali di RS dr M Djamil, walaupun masih sangat minim sekali. masih tampak bayangan trauma gempa dahsyat di wajah sebagian petugas kesehatan di RS tersebut. hal pertama yang mungkin harus di rehabilitasi adalah psikis trauma akibat gempa tersebut. seperti yang terjadi beberapa hari lalu, padang diguncang gempa kembali dengan skala 5,3 skala richter, para petugas dan pasien kembali berlarian keluar ruangan dan bertahan kembali di tenda.

seharusnya lah para petinggi pemerintah yang ada di sumbar dapat memikirkan bagaimana trauma psikis tersebut dapat di hapus. berbagai cara mungkin efektif untuk hal tersebut diantaranya; 1. dengan secepatnya menghancurkan poliklinik yang roboh, sehingga setiap orang yang lewat di tempat tersebut tidak melihat lagi hal yang mungkin menghantuinya. 2. merenovasi secepatnya gedung IGD yang rusak, yang sudah dikatakan layak pakai oleh ahlinya (kalo tidak ada gempa hehehe) sehingga masyarakat dan petugas tidak was-was lagi akan keberadaanya. 3. bangun poliklinik, biar pasien pasien yang datang tidak ditampung di tenda lagi. sehingga operasional rumah sakit ini tidak terganggu. mudahan hal diatas dapat secepatnya terwujud. amiiin.

poliklinik rawat jalan



kondisi 20 menit pertama pasca gempa

5 menit pertama pasca gempa

poliklinik roboh




Rixendo*
Pendahuluan
Keganasan pada payudara telah dikenal sejak beribu tahun yang lalu. Sejarah mencatat bahwa keganasan payudara telah dikenal dari masa Mesir kuno, Yunani, dan Roma sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Pembedahan merupakan pengobatan tertua untuk penyakit ini. Meskipun jenis mengalami pasang surut, tetapi sejak awal abad ke 18 mulai berkembang konsep pembedahan yang memberikan harapan yang di perkenalkan oleh seorang ahli bedah Perancis yang bernama Henri Francois le Dran. Kemudian Halsted memperkenalkan teknik pembedahan radikal mastektomi dimana operasi payudara meliputi pengangkatan seluruh payudara, termasuk otot pektoralis mayor dan Kelenjar getah bening aksila. Dan semakin berkembang saat memasuki abad ke 19 dimana telah ditemukan nya X Ray, radiasi dan teknik operasi yang semakin baik. Dan pada abad ke 20, didapati bahwa teknik tadi mempunyai lokal rekurens yang tinggi dan di temukan bahwa kanker payudara tersebut juga di pengaruhi oleh hormon. Sehingga dibutuhkan terapi sistemik untuk menghancurkan penyakit yang jauh untuk memperbaiki hasil klinik. Paradigma baru ini menjadi dasar konservasi payudara, terapi ajuvant sistemik, pengobatan multidisiplinari terintegrasi, dan terakhir, pencegahan kanker payudara. lebih lengkap



catatan harian residen bedah RS dr M Djamil/FK Unand Padang

pesan


Free chat widget @ ShoutMix